Cerita sex tragedi perampokan bank

681 views

. Suaminya menganggap itu kejadian musibah biasa, tapi sang
istri menyimpan itu sebagai suatu rahasia.

naughty_america_american_daydreams_nicole_aniston_05

Diikat menjadi satu dengan
Satpam bank akhirnya membawa sensasi luar biasa. Cerita Seks Seru
Chapter 1: Pandangan Suami Perampokan bersenjata di bank siang itu
membawa pengalaman traumatik bagi Aris Hendrawan (35), seorang
pengusaha mutiara. Siang itu ia bersama istrinya Kristin (30) berada
dalam bank tersebut untuk sebuah transaksi keuangan perusahaan mereka.
Suasana bank cukup ramai, bersama para nasabah lainnya Aris dan
Kristin mengantri menunggu layanan kasir. Tiga kasir bank sibuk
melayani nasabah, satu persatu. Lima orang lelaki perbusana serba
hitam ditutup jaket kulit hitam tiba-tiba masuk ke ruang tunggu dan
langsung mengeluarkan senjata api jenis pistol dan sebuah laras
panjang. “Jangan ada yang bergerak.. semuanya diam, jangan membuat
tindakan ceroboh atau kepala kalian akan pecah,” teriak seorang lelaki
yang memimpin. Ini perampokan, pikir Aris. Suasana sempat kacau penuh
teriakan dan para nasabah berhamburan, Aris mengikuti beberapa nasabah
yang lari ke lantai dua. Kawanan rampok itu kemudian menyebar, dua
orang masuk ke sisi kasir, sedangkan tiga lainnya sibuk mengacungkan
senjata ke nasabah. Seorang lainnya mengejar nasabah yang lari ke
lantai dua. Aris dan enam nasabah dilantai dua tak berkutik ditodong
senjata, mulit mereka ditempel lakban, sementara para nasabah di
lantai dasar juga sudah sepi tak berani bersuara. Kawanan rampok
mengikat para nasabah. Ada yang tiga menjadi satu, ada yang dua
menjadi satu, dan semua mulut mereka ditempel lakban. Dari balkon
dalam lantai dua, bisa melihat semua di lantai satu, tapi ia mendadak
khawatir karena tidak melihat Kristin istrinya. Seorang perampok
menjaga di pintu, satpam yang berjaga di meja dalam juga tidak
terlihat, hanya pakaiannya tergeletak di lantai, mungkin ia
ditelanjangi rampok. Dua kawanan rampok naik ke lantai dua untuk
memeriksa letak brangkas diantar seorang wanita kasir yang ditodong
pistol. Aris mencoba bergeser ke ujung balkon, ia mencari Kritin.Aris
lega, ternyata Kristin berada di sebuah lorong sempit menuju toilet.
Aris meihatnya terikat menjadi satu dengan seorang lelaki tegap, ia
pasti satpam bank, karena hanya mengenakan celana kolor dan kaos
dalam. Tubuh Kristin dan satpam itu terikat menyatu berhadapan
dilakban melingkar dibagian pinggang dan dada. Tangan mereka juga
diikat lakban ke belakang. Keduanya berbaring dilorong menyamping
berhadapan, mulut masing-masing juga tertutup lakban. Dalam suasana
tegang itu, Aris melihat satpam dan Kristin terus berusaha melepas
ikatan mereka dengan cara bergerak terus bersamaan untuk melonggarkan
lilitan lakban. Perampokan berjalan hampir satu jam, sampai akhirnya
kawanan rampok berhasil kabur membawa jarahannya. Aris bersyukur,
Kristin dan satpam bank akhirnya terlepas dari ikatan. Si satpam
kemudian membantu nasabah lainnya sementara Kristin membuak ikatan
Aris. “Untung kita nggak diapa-apakan ya ma..,” kata Aris merangkul
istrinya. Mereka kemudian pulang. Cerita Seks Seru Chapter 2:
Kasaksian Istri Bagi Kristin, perampokan di bank itu menimbulkan
trauma sesaat tetapi berakhir dengan sensasi seks yang selama ini tak
pernah ia bayangkan. Terikat di lorong sempit dengan tubuh berdempetan
berhadapan dengan lelaki lain membuat Kristin risih bukan kepalang,
apalagi si lelaki hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor. Tapi
perasaan itu terkubur lantaran takut yang dirasakannya melihat kawanan
rampok bersenjata itu. Sekitar tiga menit berbaring berhadapan seperti
itu, Kristin melihat lelaki di depannya berhasil membuka lakban di
mulutnya setelah beruang keras mendorong lakban itu dengan lidahnya.
“Tenang bu.. saya Partodi satpam di bank ini. Maaf pakaian saya tadi
dilucuti rampok. Sepertinya sekarang mereka sedang membongkar brangkas
dan tak mungkin kembali ke mari, ayo kita berusaha lepaskan ikatan ini
bersama ya..,” kata satpam Partodi. Kristin mengangguk saja dan
berharap upaya mereka berhasil. Partodi kemudian melepaskan lakban di
mulut Kristin dengan cara menggigit sisi lakban dan menariknya.
Kristin sempat terpekik merasakan perih bibirnya tertarik rekatan
lakban, tapi kemudian berusaha tenang. “Terus bagaimana caranya,”
tanya Kristin menanyakan cara mereka melepaskan ikatan lakban di
tubuh. Sepertinya sulit karena masing- masing tangan mereka terikat ke
belakang dililit lakban, sementara lakban lainnya melilit rapat
menyatukan bagian pinggang, perut mereka berdempetan. Partodi lalu
menjelaskan pada Kristin bahwa sifat karet pada lakban dapat digunakan
sebagai kesempatan mereka lolos dari ikatan. Caranya dengan terus
bergerak agar lakban menjadi molor dan longar elastis. “Kita masih
punya kaki yang bebas bu. Saya akan membalik badan dan ibu harus
berusaha berposisi di atas saya. Setelah itu kaki ibu bisa menjejak
lantai mendorong ke arah atas tubuh saya… mungkin akan berhasil,” kata
Partodi. Ia segera mengubah posisi mereka dari yang sebelumnya
berbaring miring berhadapan, menjadi saling tindih, Kristin berada di
atas. Ini dilakukan Partodi agar Kristis tidak merasa berat jika
Partodi yang berada di atas, sebab bobot Partodi yang tinggi besar
tentu akan menyesah Kristin bila tertindih. Posisi Kristin sudah di
atas tubuh Partodi. Ia menuruti perintah Partodi dan mulai menggerakan
badannya ke arah atas tubuh Partodi dengan menjejakkan kaki di lantai.
Tapi rok span yang dikenakannya menghalangi usaha Kristin menjejakkan
kaki secara maksimal mekantai, sebab ia harus lebih mengangkangkan
kakinya agar bisa melewati kaki Partodi di bawah kakinya. Kristin
terus berupaya dan akhirnya ia bisa mengangkangkan kaki lebih lebar,
akibat gesekan tubuh mereka, rok Kristin naik sampai bongkahan
pantatnya terlihat. Tapi tak apa, pikir Kristin, demi usahanya
menjejak kaki ke lantai. Lagi pula Partodi tak mungkin melihat
pantatnya karena ia berada di bawah Kristin. “Terus goyang bu.. sudah
mulai longgar ikatannya,” Partodi berbisik pada Kristin. Entah mengapa
kata-kata “goyang” yang dibisikan Partodi membuat Kristin risih. Ia
baru sadar gerakannya berusaha melepas ikatan terkesan menjadi gerakan
yang erotis. Ia juga baru sadar kalau sejak tadi payudara 36Dnya terus
menggerus dada Partodi, dan gerakan demi gerakan yang menimbulkan
gesekan di tubuh keduanya mulai mempengaruhi libido Kristin.
“Astaga.., bang Partodi. Apa ini..? kok terasa keras.. Tolong bang,
abang nggak boleh terangsang.. ini dalam perampokan..,” Kristin
berbisik balik ke Partodi saat merasakan sesuatu benda mengeras hangat
terasa di bawah pusar Kristin. Penis Partodi rupanya ereksi setelah
beberapa lama merasakan gesekan tubuh Kristin. “Oh.. ehh.. maaf bu..
saya sudah berusaha untuk mengabaikan rasanya tapi gesekan-gesekan itu
mengalahkan pikiran saya bu. Maaf bu.. tapi saya pikir ini alami bagi
lelaki, yang terpenting sekarang kita harus terus berusaha melepas
ikatan ini bu.. sebelum perampok itu kembali ke mari,” Partodi agak
gugup dan malu menyadari Kristin mengetahui penisnya mulai bangun. “Ya
sudah.. nggak apa-apa, asal bang Partodi jangan macam-macam ya..,”
kata Kristin. Ia sadar tak bisa menyalahkan Partodi. Dan lagi benar
apa Partodi bahwa itu sangat alami dan Kristin juga merasakan hal yang
sama, ada kenikmatan menjalari tubuhnya setiap kali gerakan bergesek
ia lakukan. Pikirnya, perampokan bank yang menyebabkan mereka berdua
berada dalam posisi terikat seperti itu, dan mereka harus bersama
kompak melepaskan ikatan tersebut. Kristin kembali memusatkan
pikirannya pada upaya melepaskan lakban. Ia kembali menggerakan
tubuhnya menggesek tubuh Partodi dari atas ke bawah dan sebaliknya
dari bawah ke atas, agar ikatan lakban melonggar. Upayanya cukup
berhasil, kini jarak gesekan sudah bisa lebih jauh menandakan lakban
mulai longgar elastis. Bagian perut Kristin sudah bisa menjangkau
perut Partodi bagian atas, Kristin berusaha terus menjejak lantai agar
tubuhnya terdorong naik lebih jauh. “Ehmm bu.. coba lagi ke bawah..
terus dorong lagi ke atas.. sudah mulai longgar lakbannya..,” suara
Partodi semakin parau. Tubuh Kristin yang terdorong ke atas membuat
penis Partodi kehilangan sentuhan, sebab selangkangan Kristin kini
sudah diatas melewati ujung penisnya. Kristin setuju dengan Partodi,
mungkin gerakan harus kembali ke bawah lalu kembali lagi ke atas
sehingga ikatan lakban makin molor elastis. Tapi gerakan ke bawah yang
dilakukan Kristin justru membuat keadaan mereka berdua berubah.
Pikiran masing-masing milau terpecah antara kenikmatan yang mulai
dirasakan atau upaya melepas lakban. “Enghhh..,” Kristin melenguh
kecil. Ia merasakan ujung penis Partodi menyentuh CD yang dipakainya.
Panis Partodi yang sudah sangat tegang terdoring keluar dari balik
celana kolornya, lantaran gesekan membuat kolornya melorot. Kini,
setiap gerakan Krsitin membuat koneksi ujung penis Partodi kian terasa
mendorong-dorong CD Kristin. Rasa nikmat kekenyalan itu terasa semakin
sering di bibir vagina Kristin yang terhalang CD. Kristin terus
berupaya memecah pikirannya agar tetap konssntrasi beregerak demi
melepas ikatan lakban, tapi semakin bergerak dan semakin gesekan
terjadi membuah gairah seksualnya terdongkrak naik. Lama-lama ia
merasakan Cdnya membasah oleh cairan vaginannya sendiri. Apalagi, dari
bawah Partodi juga terus bergerak berusaha melepaskan ikatan lakban
ditanganya yang tertindih ke belakang. Hal ini membuat erotisme
tersendiri dirasakan Kristin. “Enghh.. ahhss..,” Kristin mendesah dan
menghentikan gerakannya. Ia menyadari kini posisi sudah sangat gawat.
Gerakan-gerakannya justru mengantar ujung penis Partodi mengakses
bibir vaginanya lewat sisi kiri CD-nya. Kristin merasakan kepala penis
Partodi sudah berada tepat di tengah bibir vaginanya yang basah dan
sudah tidak terhalang CD yang kini melenceng ke samping. “Hmm.. bu,
kenapa berhenti.. sudah hampir lepas ikatannya nih..,” Partodi terus
bergerak berusaha melepas ikatan tangannya. Tapi ia juga merasakan
penisnya sudah menyentuh kulit vagina Kristin secara langsung, karena
sisi CD kristin yang membasah tergeser ke samping. Kristin berusaha
mengembalikan konsentrasinya, dan berusaha menjejak kaki ke lantai
agar tubuhnya naik dan vaginanya menjauh dari penis Partodi. Namun
upayanya gagal, kini ikatan lakban justru mengancing posisi itu,
Kristin tak mungkin naik, hanya bisa turun ke bawah beberapa kali lalu
naik lagi setelah ikatan melonggar kembali. Kristin mulai putus asa.
Ia harus bisa lebih cepat melepaskan ikatan lakban itu sebelum penis
Partodi mengakses lebih jauh vaginanya. Pikiran sadarnya masih
berjalan dan menyadari sesaat lagi ia akan disetubuhi Partodi, dalam
keadaan terpaksa begitu. Konsentrasi Kristin gagal. Gerakan Partodi
dari bawah membuat kepala penisnya mulai masuk membelah bibir vagina
Kristin. “Ough..,” Partodi tak kuasa menahan desah kenikmatan
merasakan kepala penisnya menguak bibir vagina Kristin. Ia terus
bergerak berusaha melepas ikatan ditangannya yang tertindih tubuh,
tapi setiap gerakannya membuat kepala penisnya mulai bermain keluar
masuk di bibir vagina Kristin. Hal itu memberi sensasi kenikmatan pada
Kristin, ia masih berusaha diam diatas tubuh Partodi sampai ada
kesempatan menjejak kaki agar vaginanya menjauh dari penis Partodi.
Kristin akhirnya berspekulasi. Sekali gerakan ke bawah, lalu sekuat
tenaga menjejak kaki ke lantai tentu akan membantunya menjauhkan
vaginanya dari penis Partodi. “Enghhsshh.. ahh.., bang jangan gerak
duluhh.. ini nggak boleh terjadi bang, saya wanita bersuami dan abang
pasti sudah beristri kan?.” kata Kristin, wajahnya bersemu merah.
Tubuh dan wajah Kristin serta kulitnya yang putih mirip dengan artis
Mona Ratuliu. “Iya bu.. saya juga pikir begitu. Tapi bagaimana lagi,
posisi kita sulit berubah selama ikatan ini..,” jawab Partodi, ia juga
menjadi serba salah dengan posisi itu. “Oke bang.. sekarang gini aja..
saya akan bergerak turun, dan mungkin itu akan terjadi.. anu abang
bisa masuk ke anu saya.. tapi itu hanya sekali ya, dan saya akan
mendorong ke atas membuatnya lepas lagi. Setelah itu kita konsentrasi
lagi untuk melepas lakban sialan ini..,” kata Kristin dengan nafas
berat. “Iya.. iya. Terserah ibu. Tapi tolong saya jangan dilaporkan ke
atasan saya apalagi polisi bu. Kalau kontol saya masuk ke pepek ibu..
nanti saya dibilang memperkosa,” Partodi polos ketakutan. “Hnnggaak
bang.. ini kan karena perampokan sialan itu, jadi bukan salah saya
atau abang.. kita sama-sama berusaha keluar dari masalah ini kok..
sekarang abang diam ya.. saya akan berusaha. Ehmm… enghhmmmpp… ahssstt
banngghh… ahhhkksss,” Kristin mengerakan tubuhnya bergeser ke bawah.
Gerakan itu membuat bibir vaginanya yang sudah menjepit ujung penis
Partodi menelan setengah penis itu. Partodi agak hitam kulitnya, tapi
wajahnya manis seperti artis Anjasmara, dan badannya kekar. Penis
Partodi dirasakan Kristin lebih besar dan padat dari penis Aris
suaminya. Kristin merasakan sensasi nikmat saat kepala penis Partodi
terbenam di vaginanya. “Ayo bu.. dorong lagi ke atas biar lepas,”
Partodi khawatir karena kini penisnya sudah mulai menyetubuhi Kristin.
“Iya bang.. hmmmpphh aahhss… banghhsss.. emmpphh.. ahssss,” Kristin
berusaha menjejak kaki ke lantai agar tuuhnya terdorong ke atas dan
penis itu lepas dari vaginanya, tapi keadaan tak berubah, ikatan
lakban mengancing bagian pinggang mereka membuat Kristin tak mungkin
menaikkan tubuhnya. “Akhhss.. bangghh.. gimana inihh.. ahsss..,”
Kristin kembali diam tak bergerak, separuh penis Partodi yang
dirasanya mebuat nafasnya semakin berat. “Oke.. sekarang ibu diam saya
biar tidak semakin masuk kontol saya. Saya akan berusaha melepas
ikatan tangan saya bu.. engghhh,” Partodi mengangkat pinggulnya dan
pantatnya menjauh dari lantai agar tangannya bisa bergerak bebas, lalu
berusaha melepas dua tangannya dari ikatan lakban. Peluh sudah
membasahi tubuh keduanya. Partodi melakukan itu beberapa kali. Pinggul
dan pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses
penisnya masuk lebih dalam ke vagina Kristin. Kristin sudah pecah
konsentrasi, kini pikirannya hanya merasakan kenikmatan separuh penis
Partodi yang keluar masuk perlahan ke vaginanya mengikuti gerakan
pinggul Partodi. “Akhhss bangghhss ouhh.. akhhh.. ahkkk… enghhhmm,”
Kristin semakin mendesah, kini pinggul Kristin melayani gerakan
Partodi, ia malah berusaha agar penis Partodi terasa lebih dalam di
vaginanya. Tangan Partodi sudah terlepas dari ikatan dan kini bebas.
Tapi libido yang sudah tinggi membuat Partodi bukannya melepaskan
ikatan lakban di pinggang mereka, ia justru membuak kancing-kancing
baju Kristin dan meremasi payudara Kristin. “Emmphhh… banghhsss
emmphhhhsss,” Kristin semakin hilang kendali diperlakukan seperti itu,
kini bibirnya menyambut bibir Partodi, mereka berkecupan sangat dalam
dan cukup lama. Partodi meloloskan susu Kristin dari Bra-nya dan mulai
menghisapi payudara Kristin, lalu kedua tangannya mengarah ke bawah
dan mengamit sisi CD Kristin agar penisnya mengakses jauh vagina
Kristin. Saat itu penisnya sudah bisa masuk utuh ke vagina Kristin,
tangannya menekan dan meremasi pantan Kristin membuat Kristin semakin
mendesis. “Ouhgg.. ahhgg.. bu.., tangan saya sudah lepas.. kita
bebasin dulu ikatannya atau bagaimana? ouhgg,” Partodi bertanya sambil
menahan kenikmatan digenjot Kristin. Ya pinggul Kristin sudah cukup
lama menggenjot Partodi membuat penis Partodi bebas keluar masuk ke
vagina Kristin. “Akhh banghh… sshh.. terserah abanghhh sekaranghhh..
ouhss..,” Kristin sudah sangat melayang merasakan kenikmatan penis
Partodi, apalagi rangsangan Partodi secara liar di payudaranya
membuatnya semakin hilang kendali. “Baik buhh.. akhh.. kalau begituhh
kita tuntaskan duluh.. ouhsss..,” Partodi kemudian melepaskan ikatan
tangan Kristin tapi membiarkan ikatan di pinnggang mereka tetap
seperti semula. “Iyaahh banghh.. terusinnn duluhh… akhhsss.. ouhh…,”
tangan Kristin yang sudah bebas langsung merangkul leher Partodi dan
keduanya kembali saling berpagutan, sementara gerakan pinggul Kristin
semakin liar. Masih disatukan dengan ikatan di pinggang, Partodi
membalik tubuh Kristin sehingga kini Kristin ditindihnya. Ia lalu
menggenjot pantatnya membuat penisnya membobol vagina Kristin secara
utuh. Cairan vagina Kristin menimbulkan bunyi kecilpakan setiap kali
berbenturan dengan pangkal penis Partodi. Kristin merasakan gerakan
Partodi makin keras dan makin cepat mengakses vaginanya, kenimatan
mulai memuncak di klitorisnya seolah mengumpul panas hingga bongkahan
pantatnya. Ia mengimbangi gerakan Partodi dengan menggoyang
pinggulnya. “Oughh.. banghhhss… akhhsss.. sayaahhh banhgg… akhhhsss
say..ah.. sampaaiiihhh bangghhsss… ouhhhggg…,” Kristin merasakan
klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis Partodi yang
terus menerus menghujam. Tubuhnya menegang merasakan kontraksi otot
vaginanya berkedutan intens mengantar kenimatan puncak. “Aghh… ahhh…
yehh… buhhh… akhhsss uhhh… mmmpphhh..,” Partodi membenamkan seluruh
penisnya ke vagina Kristin dan melepas spermanya menyembur dinding
rahim Kristin sambil bibirnya langsung melumat bibir Kristin. Tubuh
keduanya seakan menegang bersamaan mencapi klimaks seksual. Beberapa
saat setelah itu, Partodi lalu melapas iakatan lakban yang menyatukan
pingang mereka. Mereka berdua lalu merapihkan busana masing- masing.
Perampokan baru saja usai, dan kawanan perampok sudah meninggalkan
bank dengan barang jarahannya. “Emm.. bu.. maafkan atas yang bausn
terjadi bu. Saya hilaf… engg..,” “Sudah.. sudah bang. Lupakan saja
ya.. saya juga hilaf..,” Kristin memotong pembicaraan Partodi.
Keduanya lalu berkenalan lebih jauh dan berjanji untuk sama-sama
menyimpan kejadian itu hanya di antara mereka berdua. Keduanya lalu
berpisah, Partodi menolong membebaskan nasabah bank di ruang tunggu,
sementara Kristin mencari Aris suaminya yang terikat di lantai dua.
Kristin menjaga rahasia bahwa apa yang dilihat Aris dari lantai dua
tak seperti yang sesungguhnya terjadi dan dinikmati olehnya

Tags: #bank #Cerita #perampokan #sex #tragedi

Comments are closed.

Author: 
    author